Penyakit Avian Encephalomyelitis Pada Ayam

Penyakit Avian Encephalomyelitis Pada Ayam | Penyakit Hewan. Penyakit pada ayam ini merupakan penyakit yang sangat menular dengan gejala klinis munculnya ataksi dan tremor pada kepala serta leher. Tremor adalah suatu bentuk gejala yang menunjukan keadaan kejang ringan atau gemetar. Penyakit ini biasa menyerang pada ayam muda dibawah 1 bulan, sedangkan penyebabnya adalah sejenis virus yang bernama enterovirus dari famili Picornaviridae.

Jika kita membuka atau bedah bangkai pada ayam yang sudah mati akibat penyakit avian encephalomyelitis ini, maka kita akan menemukan adanya keputihan pada lapisan otot dinding ventrikulus. 
Angka morbiditas penyakit pada ayam ini sekitar 40-60 %, dengan tingkat kematian penderita dapat mencapai 25 %. Kemudian penyakit ini dapat menular secara vertikal dari induk ayam ke anaknya melalui telur atau bisa juga menular secara horizontal, yaitu melalui peralatan dan bahan yang tercemar oleh virus ayam tersebut.

Penyakit ini sering dikelirukan dengan penyakit Newcastel Disease, Marek's Disease dan Encephalomalacia kerena defisiensi vitamin E. Untuk membedakannya maka diperlukan uji laboratorium melalui uji serologi dan pemeriksaan histopatologi.

Untuk pengobatan penyakit ini sampai saat ini tidak membuahkan hasil yang baik, atau boleh di katakan tidak ada obat yang efektif untuk jenis penyakit virus pada ayam ini.

Karena penyakit ini tidak dapat diobati maka tindakan pencegahan dan pengendalian yang harus dilakukan adalah ayam penderita harus dipisahkan dari ayam yang sehat atau dimusnahkan dengan cara dikubur atau dibakar, kandang dan peralatan yang tercemar harus disuci hamakan dengan mengunakan desinfektan, dan cara terakhir yang sering digunakan adalah melalukan vaksinasi terhadap penyakit avian encephalomyelitis.
Jika kita akan memastikan dengan uji laboratorium  melalui pemeriksaan histopatologi maka yang diperlukan adalah otak ayam, pangkreas dan duodenum yang di letakkan di dalam formalin 10 %. Sedangkan untuk uji serologis, yang perlu dibawa adalah serum dari ayam penderita tersebut.
Demikian semoga dapat bermanfaat.

Penyakit Berak Darah Pada Ayam

Penyakit Berak Darah Pada Ayam | Penyakit Hewan. Penyakit ini sering menyerang pada ayam petelur dalam tahap grower, namun demikian berak darah juga dapat terjadi pada ayam kampung maupun jenis ayam yang lain. 
Penyakit berak darah ini juga disebut dengan coccidiosis yang disebabkan oleh jenis protozoa dari famili Eimeriidae. Pada ayam penyebabnya adalah Eimeria tenela, E. necatrix, E. maxima, E. acervulina, E. brunetti, E. mitis, E. praecox, E. mivati dan E. gallinae.

Gejala Coccidiosis Pada Ayam adalah :
  • Adanya berak darah ( merupakan ciri khas ) pada ayam yang muncul pada hari ke 4 - 5 pasca infeksi.
  • Berat badan ayam menurun, menjadi kurus dan nampak pucat.
  • Pada ayam petelur, merupakan salah satu penyebab turunnya produksi telur.
  • Bulu ayam menjadi kusam, dan sering kotor oleh tinja bercampur darah, terutama didaerah sekitar anus.
  • Kematian biasanya dapat terjadi pada hari ke 4 sampai hari ke 6 pasca infeksi.

Angka morbiditas atau angka tingkat kesakitan mencapai 80 - 90 %, demikian juga dengan tingkat mortalitas mencapai 80-90 %. Protozoa penyebab coccidiosis ini menyerang mukosa usus, tunika propia dan submukosa usus halus, caecum atau colon. Sehingga pada saat bedah bangkai pada daerah usus halus dan caecum akan mengalami pendarahan berwarna merah darah. Kemudian umur ayam yang sangat peka adalah umur 4-5 minggu, dan menular secara oral dengan termakannya ookiste yang telah mengalami sporulasi. Pada ayam yang terinfeksi lalu sembuh dari penyakit ayam ini, akan bertindak sebagai hewan karier, karena ia akan mengeluarkan ookiste melalui tinja.

Pengobatan Berak darah pada ayam yang disebabkan oleh coccidia adalah menggunakan antibiotik preparat sulfa, contohnya : furazolidone, sulfonamide, pyrimethamin, sulfaquinoksaline dll, dengan metode pengobatan 3 hari pengobatan, 2 hari berhenti dan dilanjutkan lagi 3 hari pengobatan.
Untuk pencegahan penyakit berak darah ini, dapat dilakukan dengan pemberian coccidiostat pada pakan ayam dan menjaga sanistasi kandang dan lingkungan sekitarnya.
Demikian mengenai penyakit berak darah pada ayam kampung, bangkok, petelur, potong / broiler atau ayam kate.

10 Jenis Penyakit Penting Pada Ayam Kampung

Ada beberapa jenis penyakit penting pada unggas khususnya ayam, baik itu ayam buras/kampung/lokal, ayam potong/broiler/pedaging, maupun ayam layer/petelur. Penyakit-penyakit pada ayam tersebut adalah Coccidiosis,Colisepticaemia,Penyakit IB, Penyakit Gumboro, Fowl Cholera/kolera unggas, Infectious Coryza, Pullorum, Flu burung (HPAI), ND, Botulism (Limberneck), Parasit Internal dan parasit eksternal. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai penyakit pada ayam tersebut diatas.

1. Penyakit Coccidiosis (Berak Darah) Pada Ayam

Penyebab : Coccidia
Penularan : kotoran unggas yang terinfeksi
Tanda-tanda klinis :
  • Ayam mengalami depresi, tidak bergairah
  • Diare berdarah
  • turunnya berat badan
  • pial ayam pucat.
Pengobatan : coccidiostats
Pencegahan :
  • membuang kotoran ayam tiap hari
  • menjaga kandang unggas agar tetap bersih dan kering
  • tidak menempatkan terlalu banyak ayam dalam satu kandang untuk menghindari infeksi kembali.

2. Penyakit Collisepticaemia Pada Ayam

Penyebab : Echericia colli
Penularan : kotoran unggas yang terinfeksi
Tanda-tanda klinis :
  • Ayam mengalami lemah
  • ayam diare
  • Berat badan ayam turun
  • Ayam kadang-kadang mengalami Lumpuh
  • sesak napas (kadang-kadang)
Pengobatan : antibiotik
Pencegahan :
kondisi pemeliharaan yang baik dan tindakan sanitasi

3. Penyakit Fowl Cholera (Kolera Unggas/Diare Hijau) Pada Ayam

Penyebab : Pasteurella Multocida
Penularan : leleran dan kotoran unggas terinfeksi
Tanda-tanda klinis :
  • banyak unggas yang lelah dan lemah
  • bulu berdiri
  • nafsu makan ayam menurun
  • jengger dan pial berwarna kebiruan
  • wajah dan pial ayam bengkak
  • persendian ayam bengkak
  • nafas cepat dan sukar
  • Ayam mengalami batuk dan bersin
  • Adanya leleran bening atau kuning dari mata dan paruh
  • Terjadi diare cair kuning/hijau pada ayam serta kloaka menjadi kotor.
Pengobatan : antibiotik
Pencegahan :kondisi pemeliharaan yang baik dan tindakan sanitasi
gambar kolera unggas

4. Penyakit Infectious Coryza (Snot) pada Ayam

Penyebab : Hemophilus paragallinarum
Penularan : leleran hidung dan mata
Tanda-tanda klinis :
  • stress dan nafas berbunyi;
  • bersin;
  • Leleran hidung yang berwarna bening pada awalnya, tetapi menjadi kekuningan dan berbau tidak sedap;
  • leleran dari mata; kelopak mata lengket ;
  • unggas menggoyangkan kepalanya (untuk menghilangkan leleran)
  • muka bengkak.
Pengobatan : antibiotik
Pencegahan :Jauhkan unggas dari kondisi lembab dan dingin

5. Penyakit Pullorum (Diare/Berak Putih) Pada Ayam

Penyebab : Salmonella pullorum
Penularan : kotoran unggas yang terinfeksi
Tanda-tanda klinis :
  • Diare berwarna putih kapur, kloaka kotor
  • Lemah, mata tertutup
  • Sayap terkulai
Pengobatan : antibiotik, dimusnahkan untuk mencegah penularan vertikal.
Pencegahan : kondisi pemeliharaan yang baik dan tindakan sanitasi

6. Penyakit HPAI (Flu Burung) (High Pathogenic Avian Influenza)

Penyebab : virus Influenza (H5N1)
Penularan : kotoran dan leleran lainnya dari unggas yang terinfeksi
Tanda-tanda klinis :
  • kematian mendadak dengan beberapa tanda-tanda klinis;
  • tidak mau makan;
  • stress dan mengeluarkan napas berbunyi, batuk dan bersin;
  • leleran dari mata dan hidung;
  • bengkak pada muka termasuk jengger dan pial;
  • menurunnya produksi telur;
  • cangkang telur lunak;
  • diare
  • bintik-bintik darah di bawah kulit (contoh: memar; biasanya paling jelas terlihat di bagian kaki dan ceker)
  • lumpuh;
  • tortikolis dan tremor;
  • paling sedikit setengah dari flok mati dalam satu minggu (50-100% kematian)
Pengobatan : tidak ada
Pencegahan :
kondisi pemeliharaan yang baik dan tindakan sanitasi
Vaksinasi

7. Penyakit ND/Newcastle Disease (Tetelo) Pada AYam

Penyebab : Paramyxovirus
Penularan : kotoran unggas, pernafasan dan leleran dari mata atau hidung
Umumnya, bebek resisten terhadap penyakit ini akan tetapi beberapa kejadian menunjukkan bahwa anak bebek bisa saja terserang
Tanda-tanda klinis :
gambar Ayam terserang Tetelo/ND
  • Ayam yang terinfeksi oleh jenis virus ND yang ganas (kuat) bisa saja mati tanpa menunjukkan tanda-tanda sakit;
  • Sayap unggas mengembang dan kelihatan seperti menyeret sayapnya di tanah unggas nampak mengantuk (lethargy) dan tidak makan (tidak memiliki nafsu makan);
  • Terjadi kesulitan bernapas dan sesak napas yang parah;
  • Pembengkakan kepala dan leher;
  • Diare ( kehijau-hijauan);
  • Produksi telur yang menurun drastis. Kadang-kadang unggas memproduksi telur yang tidak sempurna;
  • Untuk penyakit pada stadium lanjut , tanda-tanda cemas (nervous signs) seperti bergetar (tremor), tortikolis (kepala berputar) dan paralisis pada sayap dan kaki dapat terlihat;
  • Kematian bisa saja sangat tinggi, biasanya mencapai 50 hingga 100%
Pengobatan : tidak ada
Pencegahan :
kondisi pemeliharaan yang baik dan tindakan sanitasi
Vaksinasi

8. Penyakit Botulism (Lumpuh) Pada Ayam

Penyebab : Clostridium Botulinum
Penularan : kotoran unggas yang terinfeksi (makan bangkai unggas,makanan yang busuk)
Tanda-tanda klinis :
  • Kelumpuhan pada kaki, sayap dan leher,
  • Diare
  • sesak napas
Pengobatan : antibiotik, sodium selenit,vitamin A,D dan E ???
Pencegahan :
kondisi pemeliharaan yang baik dan tindakan sanitasi

9. Penyakit Parasit Internal (Cacing) Pada Ayam

Penyebab : Cacing gelang (Ascarids), Cacing rambut (Capillaria), Cacing Caecal (Heterakis),Cacing pita.
Penularan : kotoran unggas yang terinfeksi
Tanda-tanda klinis :
  • Nafsu makan ayam kurang dan berat badan
  • Ayam mengalami diare
  • ditemukannya cacing pita atau segmen cacing pita pada feses atau kotoran ayam
Pengobatan : Anthelmintika, biji pepaya
Pencegahan :
  • membersihkan kandang unggas dan membuang sisa-sisa kotoran setiap minggu;
  • membersihkan tempat makanan dan minuman setiap hari;
  • dan menghindari bertambahnya area basah berlumpur di sekitar tempat minum dan lainnya.

10. Penyakit Parasit Eksternal (Kutu,Tungau dll) Pada AYam

Penyebab : Echidnophaga gallinacea (kutu), Knemidocoptes mutans (tungau)
Penularan : kotoran unggas yang terinfeksi
Tanda-tanda klinis :
  • unggas terganggu dan gelisah; mungkin menggaruk-garuk mata
  • kulit, jengger dan pial berwarna pucat karena kehilangan darah (anemia)
  • lesi kulit yang mengeras dimana banyak kutu menempel
  • anak unggas yang terserang parah akan mati
Pengobatan :
  • berikan minyak tanah, parafin atau vaselin (petroleum jelly) pada tempat kutu secara berulang-ulang
  • Kelupaslah kulit dari batang kayu yang dipakai untuk kandang unggas agar parasit tidak dapat bersembunyi di bawahnya.
  • Hindari kandang yang terlalu penuh.
  • Bersihkan kandang dan sarang secara teratur dan menyeluruh; semua alas tidur, alas kandang dan kotoran harus dibuang.
  • Tebarkan abu atau kapur di lantai dan dinding sarang dan kandang ayam.
  • Asapi kandang dan sarang secara teratur.
  • Pada situasi serangan yang parah, kandang dan sarang unggas harus dibakar dan dibangun kembali di lokasi yang berbeda.
  • Biarkan unggas bermain-main di abu bekas pembakaran.
  • Gunakan bubuk pembersih insektisida atau semprotan jika tersedia.
  • Semua unggas harus diobati secara bersamaan. Jika tidak, parasit dari unggas yang tidak diobati akan segera menular kembali ke unggas yang telah diobati.
  • Semprot atau taburi insektisida sarang dan kandang ayam karena kutu dan tungau bersembunyi dari unggas.
  • Ulangi pengobatan setelah 1 minggu (Insektisida tidak membunuh telur tungau, Tungau muda tumbuh di dalam telur dalam waktu 1 minggu).
Pencegahan :
kondisi pemeliharaan yang baik dan tindakan sanitasi

Demikian 10 jenis penyakit penting pada ayam kampung beserta pencegahan, pengobatan dan penanganannya, semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Penyakit Gumboro / IBD pada Ayam

Penyakit gumboro pada ayam atau yang biasa disebut juga dengan IBD ( Infeksius Bursal Disease) merupakan penyakit virus pada ayam yang menyerang bursa fabricius ayam. Sedangkan bursa fabricius sendiri merupakan suatu organ pertahanan ayam untuk menghasilkan kekebalan pada ayam, sehingga jika bursal ayam tersebut diserang penyakit gumboro maka secara otomatis penyakit lain mudah menginfeksi ayam tersebut. Dan penyakit ini juga merupakan penyebab kegagalan semua jenis vaksinasi pada ayam potong ataupun petelur, baik itu vaksin ND, vaksin IB, vaksin coriza/ snot atau vaksin-vaksin ayam yang lain. 

Gambar Penyakit Gumboro Ayam
Penyebab penyakit gumboro adalah virus avibirna, ada 2 serotipe yaitu klasik dan patogenik (vvIBD). Ada juga tipe gumboro dari galur kalkun, namun penyakit dari galur ini tidak menimbulkan penyakit pada ayam.

Penyakit gumboro ini menyerang pada ayam yang belum dewasa atau dibawah umur 12 minggu. Infeksi akut dengan galur klasik ringan atau variannya dapat menimbulkan kematian sekitar 5 % dari populasi. Variannya lebih bersifat immunosupresif dibandingkan galur klasik. Untuk virus yang vvIBD atau patogenik / ganas dapat membunuh ayam yang peka sampai dengan 50 %, sehingga hampir separuh populasi ayam bisa mati karena penyakit gumboro ini.
Virus gumboro ini bersifat immunosupresif dan memudahkan kawanan ayam diserang oleh virus dan infeksi sekunder oleh bakteri. Bakteri yang sering mengikuti adalah bakteri penyebab penyakit E.coli, pasteurella, snot, CRD dan lain-lain.

Penularan penyakit gumboro ini dapat terjadi secara kontak langsung diantara ayam muda dengan ayam yang terinfeksi pada suatu farm peternakan yang mempunyai ayam berbagai umur (umur ayam bervariasi). Dengan adanya umur ayam yang bervariasi dalam suatu farm /kandang, maka penyakit akan berputar di farm tersebut dari umur ayam yang satu ke umur ayam yang lain, demikian seterusnya sehingga penyakit ayam tersebut tidak akan tuntas ditangani/diberantas.
Infeksi tidak langsung dapat terjadi melalui peralatan kandang yang terkontaminasi virus gumboro, pekerja, baju, sepatu, dan peralatan yang lain juga bisa menjadi pembawa penularan penyakit gumboro ini.

Tanda-tanda klinis penyakit gumboro
Penyakit gumboro ini memiliki ciri-ciri yang nyata yaitu tingkat kematian meningkat di 3 hari pertama, kemudian akan menurun 2 hari berikutnya. Ciri-ciri yang lain adalah diare putih, bulu ayam kasar berkerut, ayam terlihat demam.
Pada pembukaan atau bedah bangkai ayam yang terinfeksi gumboro adalah :
  • Adanya pembengkakkan bursal, dan jika di buka bursalnya akan terlihat pendarahan ptechie atau bintik-bintik merah.
  • Ginjal ayam akan membengkak dan berwarna putih pucat, akibat tingginya asam urat.
  • Adanya pendarahan subkutan atau dibawah kulit, bisa juga intramuskular. Pendarahan ini biasanya nampak di otot dada dan paha ayam.
  • Daerah gizard terdapat pendarahan, hampir mirip dengan penyakit ND ataupun Kolera Unggas, namun jika dicermati lebih mendalam terdapat perbedaan jenis pendarahannya tersebut.
Pada ayam yang sembuh dari penyakit gumboro ini, bursa fabricius akan mengalami atropi. Disinilah fungsi bursa sebagai pertahanan tubuh terhadap virus dan bakteri menjadi menurun atau bahkan tidak berfungsi lagi. Akibatnya penyakit radang kantong hawa (airsacculitis) dan septikemia E.coli sering dijumpai pasca terjadinya penyakit gumboro. Atau kelompok ayam tersebut akan mudah sakit-sakitan seumur hidupnya, sehingga membutuhkan obat yang lebih banyak untuk mempertahankan hidupnya tersebut.
Pengobatan Penyakit Gumboro Pada Ayam, tidak ada obat khusus untuk penyakit ini, yang ada hanyalah meningkatkan stamina ayam melalui pemberian sumber energi (seperti air gula), multivitamin dan obat melancarkan ginjal dalam membuang asam urat di dalam ginjal ( seperti renil dsbnya). Pemberian obat antibiotik jenis sulfa akan memperburuk kerja ginjal dan akan meningkatkan kematian pada ayam yang terserang gumboro, sehingga antibiotik jenis tersebut tidak direkomendasikan.
Kemudian untuk pencegahan penyakit gumbor adalah vaksinasi pada umur antara 7-14 hari (tergantung tingkat keganasan virus lapangan) dan di ulang pada umur antara 20 s/d 24 hari. Umur pemberian vaksinasi juga tergantung dari titer antibodi maternal dan resiko terjadinya infeksi. Pada daerah yang patogenik (vvIBD) disarankan mengunakan vaksin yang intermediate-plus diberikan melalui air minum.
Demikian pencegahan penyakit gumboro pada ayam agar ayam kita baik itu ayam broiler/potong ataupun ayam petelur/layer terbebas dari penyakit gumboro, semoga bermanfaat....

Penyakit Infeksius Bronkhitis Pada Ayam

Penyakit Infeksius Bronkhitis atau sering di singkat dengan IB merupakan penyakit pada ayam yang menyerang daerah pernafasan dan dapat menurunkan produksi telur bagi ayam petelur. Kejadian IB di Indonesia sudah sering terjadi, sehingga pengunaan vaksin IB di peternakan petelur dan pembibitan wajib dilakukan.

Penyakit Infeksius Bronkhitis ini disebabkan oleh virus corona unggas. Penyakit ini yang paling bertanggungjawab terhadap penurunan produksi telur. Gejala yang paling nampak adalah kerabang kulit telur mengalami cacat. Infeksi pada ayam yang belum dewasa mengakibatkan penyakit pernafasan ringan, yang dapat mempengaruhi daya hidup dan pertumbuhan jika diperburuk dengan menajemen yang kurang baik dan stres akibat musim / cuaca / iklim atau bisa juga diperburuk dengan adanya infeksi mikoplasma.
Penularan virus IB ini dapat terjadi dari ayam ke ayam dalam satu flok kandang dan berlangsung sangat cepat. Penularan dapat terjadi secara langsung ataupun tidak langsung seperti melalui pekerja, peralatan, egg tray, mobil, sepatu atau pakaian pekerja.
Pada pemeriksaan Patologi dengan cara bedah bangkai, akan nampak hiperemi pada trachea dan penimbunan mucus pada rongga hidung. Pada kasus IB yang kronis, komplikasi dapat terjadi dengan infeksi sekunder yaitu dengan bakteri E. coli dan menyebkan airsaculitis.
Untuk diagnosis dapat ditegakan dengan cara isolasi dan identifikasi virus penyebab penyakit dengan mengunakan tehnik inokulasi telur atau dengan biakan jaringan.
Diagnosis retrospektif dapat dimungkinkan melalui pembuktian adanya peningkatan yang nyata antibodi yang bersirkulasi di dalam pasangan serum ayam yang menderita akut dan dalam fase penyembuhan dengan menggunakan uji ELISA atau SN.

Bagaimana Pencegahan IB pada Ayam..?
Pencegahan yang paling efektif adalah vaksinasi infeksius bronkhitis (IB) secara teratur dengan vaksin ringan yang telah dilemahkan seperti H-120, massachusetts, connecticut atau kombinasinya. Waktu vaksinasi untuk IB pada ayam dimulai saat umur 7 hari dengan air minum atau aerosol, diulang lagi saat umur 30-40 hari. Vaksin awal dengan vaksin hidup selalu dapat diberikan pada ayam petelur dan ayam pembibit sebelum umur 12 minggu untuk menghindari kemungkinan kerusakan sel telur ayam pullet. Kekebalan pada ayam petelur komersial dapat diberikan booster vaksin hidup dengan cara lewat air minum atau bisa juga mengunakan aerosol pada periode bertelur. Ayam-ayam petelur sebaiknya diberi vaksin inaktif dengan bentuk suntikan emulsi multivalen pada akhir periode pemeliharaan pullet disusul kemudian pada pertengahan periode bertelur sehingga mempertahankan antibodi terhadp virus corona penyebab penyakit IB pada ayam.

Untuk ayam pedaging /broiler/ potong pada daerah endemis dianjurkan untuk dilakukan vaksinasi IB dengan mengunakan vaksin live atau aktif atau hidup dengan cara lewat air minum atau aerosol. Vaksin ini bisa juga dikombinasikan dengan vaksin ND menjadi vaksin ND-IB pada umur 10-20 hari tergantung pada meternal antibodi yang diturunkan oleh induk ayam ke ayam pedaing tersebut.

Penyakit Mikoplasmosis Pada Ayam

Mikoplasmosis merupakan penyakit pada ayam yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum atau bisa juga disebabkan oleh M. synoviae. Kedua mycoplasma tersebut yang bertanggungjawab dalam menginfeksi peternakan ayam komersial baik itu ayam petelur maupun ayam broiler. Penyakit saluran pernafasan kronis (CRD, Chronic Respiratory Disease) yang disebabkan oleh Mycoplasma galisepticum dan sinovitis serta airsacculitis yang disebabkan oleh M. synoviae, merupakan spesies yang tersebar di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Kondisi ini bertanggungjawab terhadap kerugian yang luas pada peternakan ayam pedaging, terutama apabila pada saat bersamaan terserang pula dengan infeksi virus saluran pernafasan. Dampak ekonomis dari mycoplasma pada ayam peternak pedaging berupa laju pertumbuhan dan efisiensi penggunaan pakan yang sangat tertekan (menurun), peningkatan mortalitas / kematian, dan pengafkiran di tempat pemotongan. Pada peternakan ayam petelur dan ayam pembibitan, daya hidup dan produksi telur akan menurun.
Penularan micoplasmosis dapat terjadi secara vertikal maupun secara lateral. Penularan secara vertikal terjadi antara induk yang terinfeksi kepada keturunannya. Sedangkan penularan secara lateral dapat terjadi lewat kontak langsung dari kawanan yang secara klinis menderita penyakit atau karier yang sedang dalam penyembuhan kepada kawanan ayam yang rentan (peka). Infeksi secara tidak langsung juga bisa terjadi melalui peralatan, karung pakan, dan pekerja yang terkontaminasi.
Burung liar dan binatang pengerat seperti tikus juga bisa menularkan penyakit ini kepada kawanan ayam yang mudah kena penyakit. Kuman mycoplasma tidak dapat hidup di luar induk semang lebih lama dari 24 jam.
Ciri-ciri ayam yang terserang mikoplasmosis adalah adanya gejala pernafasan kronis yang meliputi keluarnya cairan mata, suara nafas abnormal pada trakhea, penurunan laju pertumbuhan ayam, dan meningkatnya serangan penyakit pernafasan lain. Pada kasus kronis mengakibatkan kekurusan dan keluarnya cairan bernanah dari hidung.
Sedangkan gejala klinis ayam yang terserang M. Synoviae adalah munculnya arthritis akut pada pergelangan kaki dan lutut ayam yang terinfeksi sehingga menimbulkan pincang pada ayam tersebut. 

Bagaimana cara mengobati Mikoplasma ?
Cara mengobati mikoplasmosis adalah dengan menekan gejala klinis yaitu dengan pemberian obat tylosin dan senyawa fluoroquinolon, atau bisa juga mengunakan obat spiramycin ataupun erytromycin dalam air minum. Anak ayam yang berasal dari induk yang diketahui menderita penyakit mikoplasma dapat diobati dengan antibiotik yang sesuai 48 jam sejak saat penetasan, kemudian dilanjutkan pada umur 20-24 hari selama dalam jangka waktu 24-48 jam. Dapat dikatakan bahwa pengobatan tidak dapat menghilangkan status carrier dalam kawanan yang terinfeksi, tetapi akan menekan ekskresi organisme ini dalam eksudat pernafasan dan dalam telur.
Demikian sekilas info tentang mycoplasmosis penyebab CRD dan arthritis pada ayam. Semoga bermanfaat.

Bahayakah Penyakit Flu Burung ?

Penyakit Flu burung merupakan penyakit unggas yang disebabkan oleh virus influenza. Virus flu burung ini menular secara secara alami di antara unggas-ungas tersebut. Burung liar yang ada di dunia ini yang terinfeksi flu burung akan membawa virus tersebut didalam usus mereka, tetapi biasanya para burung tersebut tidak menunjukkan gejala sakit. Namun, flu burung ini sangat menular di antara burung dan dapat membuat beberapa unggas peliharaan menjadi sakit dan mati, termasuk ayam, bebek, dan kalkun.
gambar vaksinasi flu burung
Gambar Vaksinasi Flu Burung
Dahulu kala virus flu burung ini tidak menginfeksi manusia, namun saat ini seiring dengan adanya mutasi virus H5N1, manusia dapat terserang dan terinfeksi flu burung. Di Indonesia sendiri berdasarkan hasil laporan rumah sakit sudah beberapa yang terinfeksi dan meninggal.
Flu Burung ada 15 subtipe yang berbeda dan beberapa subtipe telah diisolasi dari burung peliharaan seperti burung parkit, burung nuri, burung kakatua, dan burung kutilang.
Apakah yang dimaksud dengan virus flu burung tipe A (H5N1)?
Merupakan virus influenza A atau yang biasa disebut juga virus H5N1. Virus ini pertama kali diisolasi dari burung (dara) di Afrika Selatan pada tahun 1961. Seperti semua virus flu burung, virus H5N1 menyebar di antara burung-burung di seluruh dunia dan sangat menular di antara burung-burung tersebut serta menimbulkan kematian pada burung tersebut.
Bagaimana penyebaran flu burung ?
Unggas yang terinfeksi virus flu burung memiliki virus di dalam air liur unggas tersebut, di sekresi hidung juga terdapat virus flu burung, dan di kotoran unggas tersebut. Unggas jenis ayam, burung, bebek, entok sangat rentan terinfeksi flu burng ketika mereka melakukan kontak dengan ekskresi yang terkontaminasi atau permukaan yang terkontaminasi dengan virus flu burng. Sedangkan pada manusia, hal ini diyakini bahwa sebagian besar kasus infeksi flu burung pada manusia disebabkan oleh kontak dengan unggas yang terinfeksi atau permukaan yang terkontaminasi virus H5N1.
Apa risiko flu burung terhadap manusia?
Resiko dari flu burung umumnya rendah bagi kebanyakan orang karena virus terjadi terutama di antara unggas seperti burung dara, ayam broiler, ayam petelur, ayam kampung, bebek, entok dan jenis burung lainnya. Virus Flu Burung ini biasanya tidak menginfeksi manusia. Namun, selama wabah flu burung yang terjadi pada unggas (ayam peliharaan, itik, kalkun, burung dara), ada peningkatan risiko terjadi penularan terhadap manusia, kemungkinan penularan itu terjadi pada orang-orang yang memiliki kontak dengan unggas yang terinfeksi atau permukaan yang telah terkontaminasi dengan ekskresi dari burung yang terinfeksi.
Wabah flu burung saat A (H5N1) pada unggas di Asia termasuk Indonesia adalah contoh kasus dari wabah flu burung yang telah menyebabkan infeksi pada manusia dan mampu menyebabkan kematian pada manusia. Dalam situasi seperti itu, orang harus menghindari kontak dengan unggas yang terinfeksi atau permukaan yang terkontaminasi, dan harus berhati-hati ketika menangani dan memasak unggas.
Apa saja gejala flu burung pada manusia?
Gejala flu burung pada manusia hampir mirip dengan gejala flu biasa yaitu demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, infeksi pada mata, pneumonia atau radang paru-paru, penyakit pernafasan yang parah (seperti gangguan pernapasan akut), dan komplikasi penyakit yang parah dan mengancam jiwa manusia . Gejala flu burung mungkin tergantung pada virus mana yang menyebabkan infeksi.
Bagaimana flu burung pada manusia diobati?
Studi menunjukkan bahwa obat-obatan resep seperti tamiflu dll telah disetujui untuk pengobatan virus flu manusia, obat flu tersebut akan bekerja dalam mencegah infeksi flu burung pada manusia. Namun, virus flu dapat menjadi resisten terhadap obat-obatan, sehingga obat-obat ini mungkin suatu saat tidak akan efektif lagi, seiring dengan cepatnya mutasi virus H5N1 ini.
Sejarah munculnya flu burung didunia dan bagaimana penyakit itu bisa menyebar?
Dimulai pada akhir Juni 2004, wabah baru yang mematikan yang terjadi di hewan jenis unggas telah muncul yaitu Infeksi influenza (H5N1) telah dilaporkan oleh beberapa negara di Asia, seperti negara: Kamboja, Cina, Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Sejak saat itu telah diidentifikasi di bagian lain di Asia, Eropa, dan Afrika.
Ada 271 kasus flu burung pada manusia tipe A (H5N1), yang mengakibatkan 57 kematian telah dilaporkan pada Januari 2004 sampai 3 Februari 2007. Virus flu burung tipe A (H5N1) ini bersifa epizootic di Asia dan diperkirakan tidak akan berkurang secara signifikan dalam jangka waktu yang pendek. Kemungkinan bahwa infeksi H5N1 di antara burung-burung telah menjadi endemik ke wilayah tersebut dan bahwa infeksi pada manusia akan terus terjadi.
Sejauh ini, tidak ada laporan tentang penularan dari manusia ke manusia yang berkelanjutan dari virus H5N1 yang ada hanya dalam satu keluarga atau klan, namun, wabah di Asia merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang penting. Jika virus H5N1 memperoleh kemampuan untuk melakukan transmisi yang efisien dan berkelanjutan pada manusia, ada sedikit kekebalan alami yang didapat pada paparan virus sebelumnya di sedikit populasi manusia, dan yang terjadi selanjutnya adalah terjadinya pandemi influenza yang menyebabkan tingginya tingkat penyakit flu burung dan kematian pada manusia secepat dan setinggi pada kematian unggas pada saat ini. Selain itu, urutan genetik dari sampel virus influenza A (H5N1) dari kasus manusia di Vietnam dan Thailand menunjukkan adanya resistensi obat antivirus seperti amantadine dan rimantadine, dua obat antivirus tersebut merupakan obat yang biasa digunakan untuk pengobatan influenza. Sehingga saat ini hanya ada dua jenis obat antivirus yang tersisa dan masih efektif untuk melawan virus flu burung yaitu oseltamivir dan zanamivir.
Hal tersebut memberikan alasan lebih lanjut tentang mengapa kita sangat khawatir terhadap flu burung ini. Perkembangan virus H5N1, baru-baru ini menunjukkan bahwa saat ini telah beredar strain virus H5 menjadi lebih mampu menyebabkan penyakit (patogen) untuk mamalia dari virus H5 sebelumnya dan menjadi lebih luas, bukan hanya terjadi pada burung dan ayam di wilayah tersebut melainkan telah terjadi pada bebek seperti yang terjadi di daerah Brebes dan daerah Indonesia lainnya. Laporan terakhir bahwa bebek-bebek tersebut mati karena terinfeksi virus flu burung atau H5N1. Padahal sebelumnya bebek-bebek tersebut lebih tahan dalam menghadapi flu burung dan bebek dahulunya bertindak sebagai hewan carrier atau hewan penular ke unggas jenis ayam. Hal ini memiliki implikasi bahwa peran bebek memiliki potensi menularkan penyakit flu burung ke unggas lainnya dan mungkin bagi manusia juga. Selain itu, temuan lainnya telah didokumentasikan bahwa infeksi H5 telah terjadi di hewan babi yaitu di negara Cina dan infeksi H5 pada kucing (uji eksperimental pada kucing peliharaan di Belanda dan isolasi virus H5N1 dari harimau dan macan tutul yang terinfeksi di Thailand), hal tersebut menunjukkan bahwa kucing bisa menjadi tuan rumah / carrier atau bisa menularkan penyakit pada hewan lain atau manusia.

Konsultasi Penyakit Hewan Online


Selamat datang di Konsultasi Penyakit Hewan Online, Anda bisa mengajukan pertanyaan tentang penyakit hewan anda di sini. Untuk itu kami berharap agar Anda mengisi form isian dibawah dengan benar, lalu klik submit.
Konsultasi ini bersifat gratis, artinya tidak dipungut biaya apapun dan kami tidak mengambil keuntungan apapun dari konsultasi penyakit hewan ini.
Jawaban yang akan kami kirim ke E-Mail Anda berupa Diagnosa, Analisa Penyakit, Solusi dan Saran Pengobatan. Sehingga jika alamat e-mail anda tidak benar (salah ketik, kurang hurup, email tidak terdaftar dsb) maka jawaban tidak terkirim (failure notice), maka pastikan alamat email anda di ketik dengan benar.

Syarat dan Ketentuan :
  • Ketepatan diagnosa kami tidak 100 % benar, karena kami tidak memeriksa sendiri kondisi fisik hewan dan gejala kliniknya, serta tidak ada hasil uji laboratorium baik itu uji feses/tinja maupun uji darah, sehingga tingkat ketepatan diagnosa dibawah 100 %. 
  • Diagnosa yang kami berikan berdasarkan pendekatan gejala klinik yang terjadi pada hewan anda sesuai informasi yang Anda berikan kepada kami. Sehingga jika anda memberikan informasi yang salah maka diagnosa-nya-pun akan salah juga dan menyebabkan obatnya juga akan salah.
  • Diagnosa yang kami berikan bukan untuk di adu dengan diagnosa dokter hewan lain. 
  • Diagnosa dan Saran Pengobatan ini bersifat GRATIS, maka tidak ada kewajiban dari kami untuk langsung menjawab pertanyaan Anda. Mungkin bisa 1 atau beberapa hari kemudian jawaban kami kirim ke Anda, tergantung dari kesibukan kami di dunia nyata (mohon maaf dan harap maklum)
  • Saran pengobatan yang kami berikan tidaklah mengikat artinya boleh dilakukan, boleh juga tidak dilakukan. 
  • Kesalahan pemberian obat baik cara, aplikasi, jenis obat sehingga menyebabkan hewan mengalami cidera, luka atau bahkan bisa meninggal baik karena penyakit itu sendiri atau karena obat, bukan menjadi tanggungjawab kami. Semua itu menjadi tanggungjawab Anda sendiri. Jika anda setuju silahkan isi form dibawah, namun jika Anda tidak setuju harap jangan isi form di tersebut. 
  • Dengan mengisi form dibawah berarti anda telah menyetujui syarat dan ketentuan dari konsultasi penyakit hewan online.
Catatan Penting
Diagnosa dan Pengobatan akan lebih tepat jika Hewan Anda langsung diperiksa oleh Dokter Hewan di Klinik Hewan atau di tempat praktek yang mempunyai peralatan medis yang lengkap beserta hasil uji lab.


Pengobatan Penyakit Cacar Pada Ayam

Pengobatan Penyakit Cacar Pada Ayam | Penyakit Hewan. Sebelum kita membahas pengobatan dan pencegahan penyakit cacar pada ayam maka terlebih dahulu kita pahami tentang penyakit ini. Penyakit cacar ayam atau yang biasa disebut fowl pox atau fowl diphteria adalah penyakit menular pada unggas (ayam, burung, bebek, entok dsb), ditandai dengan adanya bungkul-bungkul pada kulit atau lesi difteritik pada selaput lendir mulut dan esophagus.
Penyakit cacar ayam ini bisa menyerang semua jenis ayam dan bisa terjadi pada berbagai umur. Ayam yang terserang termasuk ayam lokal / buras, ayam bangkok, ayam petelur, ayam ketawa dan ayam kate.
Penyakit cacar ayam ini disebabkan oleh Avipoxvirus-3 dari famili Poxviridae dengan gejala klinis yang di timbulkannya adalah sebagai berikut :
  • Masa inkubasi penyakit cacar ayam ini sekitar 5-7 hari.
  • Pada kasus ringan, nafsu makan dan minum ayam masih baik. Tetapi pada kasus berat, penderita akan mengalami depresi, nafsu makan dan minum akan menurun.
  • Berdasarkan lokasi lesinya, ada tiga bentuk penyakit cacar ayam ini, yaitu : bentuk kulit (cutaneus), difteria dan bentuk roup. Pada bentuk kulit, ditandai dengan adanya bungkul-bungkul cacar dengan ukuran yang bervariasi pada pangkal paruh, kelopak mata, kulit kepala, jenger, pial, kulit kaki dan jari kaki. Bungkul-bungkul tadi dapat menutupi mata ayam penderita. Bentuk kulit ini biasanya dijumpai pada ayam muda.
  • Pada bentuk difterik, terdapat lesi yang berupa material seperti keju pada mukosa mulut, esofagus, larynx dan trachea. Sedangkan pada bentuk roup, ditandai dengan adanya lesi pada rongga hidung dan trachea sehingga sering menyebabkan gangguan pernafasan unggas seperti pada penyakit snot/coriza.
  • Gejala klinis jika terjadi pada anak ayam, maka pertumbuhan anak ayam menjadi terhambat.
  • Jika penyakit cacar ini menyerang pada ayam petelur,  maka produksi telurnya menurun.
Pada perubahan Patologi Anatomi yang terlihat pada ayam yang terserang penyakit cacar adalah adanya bungkul-bungkul cacar pada mulut/paruh, jenger, pial, kulit kepala. Disamping itu juga terdapat perubahan pada mukosa mulut, yaitu adanya material difterik berwarna putih keabu-abuan sampai kekuningan seperti keju. Lesi tersebut dapat meluas sampai ke esofagus atau trachea.
Penyakit cacar unggas ini dapat menyerang dan menginfeksi berbagai jenis unggas dan burung di semua umur. Umur ayam yang paling peka terhadap cacar unggas ini adalah umur muda, umur dibawah satu bulan dan sering menimbulkan kematian, ini disebabkan karena kesulitan menelan makan.
Penyakit ini ditularkan melalui kontak langsung antara penderita dengan ayam sehat, atau bisa juga ditularkan secara mekanis yaitu melalui serangga.
Untuk mendiagnosa penyakit cacar ini didasarkan pada gejala klinis dan patologi anatomi. Sedangkan di laboratorium dilakukan dengan cara mengisolasi virus cacar dan pemeriksaan histopatologi ( adanya badan inklusi yang bersifat eosinofilik intrasitoplasmi) dan uji serologi.
Penyakit lain yang mirip dengan penyakit cacar ayam dan sering menjadi diagnosa banding adalah pada bentuk difterik cacar ayam, mirip dengan gejala ILT (Infeksius Laringotracheitis). Pada bentuk roup, mirip dengan penyakit gejala snot/coryza.
Pengobatan cacar ayam 
Pada dasarnya tidak ada pengobatan, tetapi bungkul-bungkul cacar bisa diambil selanjutnya ditempat bekas bungkul tersebut diolesi yodium tinktur. Cara ini bisa menolong penderita secara individual. Cara lain adalah mengubah bungkul cacar untuk dijadikan vaksin dan di suntikan ke ayam penderita.
gambar cacar pada ayam
Sedangkan untuk pencegahan yang harus dilakukan adalah :
  1. Ayam penderita harus segera dipisahkan dari ayam yang sehat.
  2. Kandang ayam dan peralatan yang tercemar dibersihkan dan disuci hamakan dengan desinfektan atau disemprot dengan insektisida untuk mengurangi lalat.
  3. Lakukan vaksinasi cacar pada anak ayam.
Meterial Untuk Pemeriksaan Laboratorium
  • Spesimen yang dapat dikirim untuk tujuan isolasi virus di laboratorium adalah potongan kulit yang memperlihatkan bungkul-bungkul cacar. Spesimen ini dimasukkan ke dalam botol yang berisi bahan pengawet atau media transport.
  • Untuk pemeriksaan histopatologi dapat dikirim kulit yang berisi lesi pox dalam formalin 10 %.
Demikian artikel penyakit cacar ayam beserta pengobatan dan pencegahannya ini, semoga bermanfaat.

Penyakit Coccidiosis Penyebab Berak Darah Pada Hewan

Penyakit Coccidiosis atau mempunyai sinonimnya adalah berak darah dapat terjadi pada ayam, sapi, kambing, anjing, kucing dan hewan lainnya yang disebabkan oleh protozoa Eimeria sp, biasanya ditandai adanya kotoran /diare/ berak berdarah. Pada sapi penyakit coccidiosis disebabkan oleh E.bovis, E.Zurni, E. ellipsoidalis dan E. auburnensis.
gambar anak kucing persia
Siklus hidup parasit coccidia (Eimeria) ini berawal dari keluarnya ookiste bersama tinja, kemudian terjadi sporulasi dalam waktu 1-2 hari (tergantung spesies) dan suhu sekitar. Oosit yang telah mengalami sporulasi kemudian termakan oleh hewan, selanjutnya ookiste akan pecah dan terbentuklah sporozoit yang menyerang mukosa dan epitel usus. Sporozoit akan berkembang menjadi schizont, makrogametosit dan mikrogametosit, makrogamet dan mikrogamet kawin akhirnya terbentuklah zygote/ ookiste. Penularan dapat terjadi pada hewan karena tercemarnya makanan, minuman hewan/ternak oleh ookiste. Pada hewan besar bertindak sebagai hewan karier, sedangkan hewan muda, umur dibawah 6 bulan sangat peka terhadap penyakit ini.
Gejala klinis penyakit berak darah coccidiosis bervariasi, tergantung pada umur yang terserang dan spesies Eimeria sp., pada infeksi ringan ditandai oleh adanya diare ringan yang berlangsung sekitar 5-7 hari, pada infeksi berat tinja sering terlihat bercampur darah dan lendir, hewan penderita akan mengalami depresi, nafsu makan menurun sampai hilang, berat badan menurun, dehidarasi, daerah sekitar anus menjadi kotor oleh adanya tinja, dan kematian dapat terjadi selama periode akut atau kerena infeksi sekunder (pneumonia).
Perubahan patologi anatomi yang terjadi adalah adanya kongesti pada saluran pencernaan yang diikuti enteritis hemoragika dan nekrosis, adanya penebalan mukosa sekum, kolon, rektum dan ileum, pada kasus berat dan hebat dapat terjadi ulserasi/ keropeng dan pengelupasan mukosa, darah segar atau tinja bercampur darah sering ditemukan pada lumen usus besar, karkas tampak anemik.
Ada beberapa penyakit yang mampu menimbulkan diare berdarah seperti salmonelosis, Johne's disease, defisiensi Cu, osteortagiosis dan keracunan arsen. Penyakit-penyakit tersebut merupakan diagnosa banding. Dan untuk peneguhan diagnosa maka diperlukan identifikasi secara mikroskopis dengan melihat adanya ookiste dari mukosa usus melalui tinja yang dikeluarkan oleh hewan penderita berak darah tersebut.
Pengobatan penyakit berak/ diare darah berdarah karena coccidiosis dapat diobati dengan preparat furazolidone, pyrimethamin, sulfonamide (sulfa grup). Sedangkan untuk pencegahan yang harus dilakukan oleh peternak adalah menjaga sanitasi kandang dan lingkungan, penderita coccidiosis harus diisolasi dan segera diobati agar tidak menyebarkan penyakit ke hewan lain, dan hindari mengkandangkan/mengembalakan hewan secara bersama-sama antara hewan muda dengan hewan dewasa.
Untuk membawa material sebagai bahan uji laboratorium, yang harus dibawa untuk pemeriksaan ookiste adalah tinja yang diawetkan dalam formalin 10 %. Sedangkan untuk kepentingan identifikasi parasit, tinja yang dikirim harus dalam keadaan segar atau ditaruh dalam potasium bikromat 3 % (dalam waktu sekitar 2-3 hari sejak diambil harus sudah diterima di laboratorium). Bagi hewan yang telah mati, dapat dikirim pula potongan usus yang mengalami perubahan dalam formalin 10 % untuk pemeriksaan histopatologi.
Demikian penyakit berak darah yang disebabkan oleh coccidiosis pada sapi, kambing, kucing, anjing, kelinci, ayam, babi dan hewan lainnya, semoga bermanfaat.

Penyakit Newcastle Disease (ND) Pada Ayam

Penyakit Newcastle Disease atau ND pada unggas biasa juga disebut penyakit tetelo, sampar ayam. Penyakit ini menyerang berbagai unggas seperti ayam ras petelur, ayam bangkok, ayam broiler/pedaging, ayam buras/kampung, ayam serama, ayam ketawa, bebek, entok, burung dara, burung jalak, atau burung-burung yang lain.Penyakit ini sering terjadi pada saat pergantian musim dari kemarau ke musim hujan, namun tidak menutup kemungkinan terjadi disaat musim-musim hujan. Jika di Indonesia kejadian penyakit ND/Tetelo ini sering terjadi pada bulan November sampai dengan bulan Maret, untuk itu bagi peternak ayam atau unggas harus berhati-hati.
Gambar ND Pada Ayam
Penyakit ND Pada Ayam
Penyakit Newcastle Disease (ND) merupakan penyakit pernafasan dan sistemik yang sangat menular pada ayam, ditandai oleh adanya gejala tortikolis ( kepala ayam terpelintir pada kasus ND neurotropic), diare putih kehijauan, serta tingginya angka kematian penderita.
Penyakit ND menunjukkan adanya suatu variasi yang sangat besar dalam bentuk dan derajat keparahan penyakit. Pengamatan dilapangan menunjukan bahwa pada setiap kasus ND selalu ditemukan gejala pernafasan walaupun dalam bentuk campuran dengan gejala gangguan saluran pencernaan ataupun gangguan syaraf.
Penyakit ND ini juga merupakan suatu penyakit yang bersifat kompleks oleh karena isolat dan strain virus yang berbeda dapat menimbulkan variasi yang besar dalam derajat keparahan dari penyakit, termasuk pada spesies unggas yang sama, misalnya ayam.
Ayam-ayam yang terserang penyakit ND ini adalah ayam-ayam yang tidak pernah dilakukan vaksinasi ND, titer kekebalan virus ND dalam darah ayam rendah, strain vaksin tidak sesuai dengan virus lapangan, atau adanya penyakit immunosupresif yang mampu menurunkan kekebalan terhadap penyakit ND.
Penyakit tetelo / ND ini disebabkan oleh Paramyxovirus-1 (NDV-1) dari famili Paramyxoviridae. Ada tiga tipe virus ND yaitu tipe velogenik ( terdiri dari subtipe neurotropic, pneumotropic dan viscerotropic), mesogenik dan lentogenik. Dari tiga tipe tersebut, yang mampu menimbulkan wabah dengan kematian yang sangat tinggi pada ayam adalah tipe velogenik.
Gejala Klinik Penyakit ND

Berdasarkan gejala klinik yang timbul pada ayam, maka penyakit ND dapat dibagi atas 5 bentuk, yaitu Doyle, Beach, Beaudette, Hitchner dan enterik asimtomatik.
Bentuk Doyle ditandai adanya infeksi yang bersifat akut dan fatal pada ayam semua umur. Bentuk ini tersifat oleh adanya gangguan pencernaan akibat pendarahan dan nekrosis pada saluran pencernaan sehingga dikenal dengan nama ND velogenik viserotropik (VVND).
Bentuk Beach ditandai oleh adanya infeksi yang bersifat akut dan kerap kali bersifat fatal pada ayam semua umur. Gejala yang nampak adalah adanya gangguan pernapasan dan syaraf, sehingga disebut ND velogenik neurotropik.
Bnetuk Beaudette merupakan suatu bentuk ND velogenik neurotropik yang kurang patogenik dan biasanya kematian hanya ditemukan pada ayam muda. Virus ND penyebab infeksi pada bentuk ini tergolong tipe patologik mesogenik dan dapat dipakai sebagai vaksin aktif untuk vaksinasi ulangan terhadap ND.
Bentuk Hitchner ditandai oleh adanya infeksi pernafasan yang ringan atau tidak tampak, yang ditimbulkan oleh virus dengan tipe patologik lentogenic, yang biasanya digunakan sebagai vaksin aktif.
Bentuk enterik asimtomatik terutama merupakan infeksi pada usus, yang ditimbulkan oleh virus ND tipe lentogenik. Bentuk ini tidak menimbulkan suatu gejala penyakit tertentu. 
Secara Umum penyakit ND sebagai berikut. 
  • Masa inkubasi penyakit ND atau masa mulai masuknya bibit penyakit ND sampai dengan menimbulkan gejala adalah berkisar 2 - 7 hari.
  • Ayam terlihat lesu, nafsu makan berkurang atau menurun atau hilang sama sekali, tetapi nafsu minum tinggi atau meningkat.
  • Jengger atau pial berwarna pucat kebiruan ( sianosis), suaranya ngorok dan sulit bernafas (megap-megap) disertai keluarnya leleran berlendir dari paruh.
  • Pada kasus ND yang bersifat neurotropik biasanya menimbulkan gejala syaraf yang ditandai dengan kelumpuhan, leher terpuntir (tortikolis) dan sayap terkulai lemas.
Patologi Anatomi Penyakit ND
  • Perubahan patologi anatomi pada ayam yang terserang ND/ Tetelo adalah adanya pendarahan pada alat-alat pencernaan, seperti proventrikulus, ventrikulus dan usus halus. Bentuk perdarahan dapat berupa perdarahan ptecie atau ekimose. Gejala Patognomonis ditunjukan pada perdarahan di seka tonsil dekat sekum ayam/unggas. 
  • Limpa membesar, kongesti dan kadang-kadang atropi, ini dapat diamati pada akhir perjalanan penyakit ND.
  • Hati membesar dan kongesti.
  • Paru-paru meradang, kantong udara (air sac) menebal dan suram.
  • Nekrosis dan ulser atau biasa disebut keropeng pada alat saluran pencernaan seperti usus.
Epidemiologi Penyakit ND
  • Penyakit ND ini memiliki tingkat morbiditas ( angka kesakitan) sangat tinggi yaitu sekitar 90-100% dengan angka kematian ayam hampir 100 %.
  • Biasanya wabah penyakit ND terjadi pada masa musim peralihan, dari musim panas ke musim hujan atau sebaliknya, yaitu pada saat ayam mengalami stress.
  • Hampir semua jenis unggas ( ayam, itik, angsa, termasuk juga bangsa burung seperti kakatua, beo, merpati, nuri dan lain-lain) peka terhadap penyakit ND ini.
  • Penyakit ND dapat ditularkan melalui kontak langsung antara unggas yang sakit dengan yang sehat. Disamping itu penularan juga terjadi secara kontak tidak langsung seperti, antara unggas sehat dengan orang, bahan-bahan/alat-alat, debu, udara yang tercemar virus ND.
Diagnosa Penyakit ND
  • Diagnosa penyakit ND didasarkan pada gambaran epidemiologi, gejala klinis dan perubahan patologi anatomi.
  • Diagnosa definitif dilakukan dilaboratorium dengan mengisolasi virus ND, melakukan uji serologis dan pemeriksaan histopatologi.
Diagnosa Banding
Kecuali angka morbiditas dan angka kematian ayam penderita yang tinggi penyakit ND sering sulit dibedakan dengan penyakit unggas lainnya yaitu Infeksisus Bronchitis (IB), Infeksius Laryngotracheitis (ILT), Cronic Respiratory Disease (CRD), Coryza /Snot, Avian Encephalomyelitis, kolera unggas dan penyakit gumboro.

Pengobatan Penyakit ND/Tetelo
Tidak ada pengobatan penyakit ND, namun berdasarkan hasil pengalaman lapangan bahwa untuk menyelamatkan sebagian unggas adalah dilakukan Revaksinasi ND. Kemungkinan antara ayam yang hidup dan mati adalah 50 : 50. kematian bisa lebih bisa kurang dari perbandingan tersebut tergantung dari tingkat keparahan dalam kandang satu flok.

Program Pencegahan Penyakit ND
Untuk mencegah terjadinya penyakit ND adalah dengan program vaksinasi ND dimulai umur 4 hari (vaksin live + kill), 18 hari (live), 4 minggu (live) dan 4 bulan (live+kill). Untuk program selanjutnya agar titer kekebalan ND tetap tinggi dan stabil didalam darah ayam makan setiap 2 bulan sekali dilakukan booster vaksinasi ND.
 

PENYAKIT FOWL CHOLERA ( Kolera )PADA AYAM

gambar kolera unggas/ayam
Fowl cholera (avian cholera, avian pasteurellosis, avian hemorrhargic septicemia) merupakan suatu penyakit bakterial yang mudah menular dan menyerang berbagai jenis unggas, termasuk ayam. Penyakit ini biasanya bersifat septisemik akut, yang ditandai oleh adanya morbiditas dan mortalitas yang tinggi, yang disertai oleh perdarahan yang ekstensif dan perubahan septisemik lainnya, walaupun bentuk kronis kerap kali juga muncul. 
Di lndonesia, penyakit ini dikenal dengan nama kolera unggas, avian pasteurellosis  merupakan kelompok penyakit infeksius pada unggas yang disebabkan oleh kuman Pasteurellae dan bakteri lain yang mirip Pasteurellae. Bakteri penyebab pasteurellosis meliputi pasteurellosis multocida, Yersenia pseudotuberculosis dan Pasteurella (Moraxella)anatipestifer. Pasteurella hemolytica dan Pasteurella gallinarum jarang yang bersifat patogenik pada unggas. 

Kejadian Penyakit 
Kolera Unggas biasanya ditemukan secara sporadik atau enzootik pada berbagai negara di dunia yang memelihara unggas. Di Indonesia. penyakit ini ditemukan secara sporadik di berbagai daerah pada peternakan ayam pedaging, petelur maupun pembibitan. Penyakit ini cenderung muncul pada lokasi/kandang yang sama. 
Kalkun adalah jenis unggas yang paling peka terhadap kolera unggas. Itik dan angsa juga sangat peka terhadap penyakit ini. Ayam dewasa atau ayam dara pada fase terakhir perlumbuhan (pullet) lebih sering terserang kolera dibandingkan dengan ayam yang lebih muda, walaupun ayam muda juga peka terhadap penyakit ini. Kolera unggas biasanya menyerang ayam yang berumur lebih dari 6 minggu. meskipun penyakit ini sering juga ditemukan pada ayam yang lebih muda, misalnya ayam pedaging. 
Kejadian penyakit ini sangat erat hubungannya dengan berbagai faktor stres, misalnya pergantian cuaca yang mendadak, fluktuasi temperatur dan kelembapan, pindah kandang, potong paruh, perlakuan vaksinasi yang berlebihan, pergantian pakan yang mendadak dan terserang penyakit imunosupresif ataupun penyakit parasiter. Pada berbagai daerah padal ternak ayam diindonesia, misalnya di Jawa dan Sumatra Utara, penyakit ini paling sering ditemukan pada periode musim kemarau panjang atau pada awal pergantian musim kemarau ke musim hujan. 

Kolera unggas disebabkan oleh Posteurella multocida, yang merupakan bakteri gram-negatif, non-motil, tidak membentuk spora dan berbentuk batang tunggal, berpasangan atau kadang sebagai cincin atau filamen. Organisme ini tercat bipolar dan dapat tumbuh secara aerobe maupun anaerobe. Berdasarkan atas bentuk koloni dari Pasteurella multocida, dikenal 3 galur, yaitu koloni yang halus dan terkapsulasi (sangat virulen), koloni mukoid (moderat virulen), dan koloni yang kasar dan terkapsulasi (kurang virulen), yang menyebabkan infeksikronis/pasteurellosis lokal. Disamping itu terdapat juga galur tidak virulen yang bersifat tidak patogenik.
Kemampuan Pateurella multocida untuk menginvasi dan bermultiplikasi di dalam hospes tergantung pada kapsul yg mengelilingi organisme tersebut. Jika kapsul itu hilang , maka virulensinya juga akan hilang. Walaupun demikian, bagian yang berperanan didalam kapsul tsb hanya beberapa subtansi kimia saja.
Pasteurella multocida ini tahan hidup didalam tanah, litter (alas kandang) atau bahan-bahan yang membusuk selama beberapa bulan. Walaupun demikian, bakteri ini dapat dibunuh dengan mengunakan desinfektan, kekeringan dan sinar matahari secara langsung. Kuman ini dapat dibunuh pada temperatur 56oC selama 15 menit dan pada temperatur 60oC selama 10 menit. Larutan 1 % formalin, fenol, NaOH, beta-ptopiolakton atau glutaraldehida dan larutan 0.1 % benzalkonium klorida dapat membunuh sekitar 440 juta kuman Pasteurella multocida dala waktu 5 menit pada temperatur 24o C.

Cara Penularan Kolera Unggas
Kolera pada unggas dapat menimbulkan penyakit pada ayam, kalkuk, itik, angsa, burung liar, burung peliharaan dan unggas air. Di antara berbagai jenis unggas yang dapat terinfeksi Pasteurella multocida, hewan kalkun merupakan jenis unggas yang paling sensitif.
Cara penularan kuman ini dalam suatu flok sulit ditentukan. Ayam yang menderita kolera unggas secara kronis merupakan sumber penularan penyakit paling penting. Penularan penyakit dapat terjadi melalui leleran hidung, mulut, atau kotoran ayam sakit. Penularan melalui udara tidaklah begitu penting, yang paling dominan penularan melalui air minum atau tempat air minum. Ayam yang bertindak carrier akan membawa kuman kolera didalam cavum nasi dan bagian lain saluran pernafasan bagian atas, sehingga pada waktu minum, kuman tersebut akan mencemari air minum atau tempat air minum.
Selain melalui air minum, penularan kolera pada ayam bisa terjadi melalui pakan, tempat pakan, alat pengangkut dan pekerja baik secara kontak langsung maupun tidak langsung. Penularan juga bisa melalui memakan bangkai ayam mati karena penyakit kolera.
Manusia bisa terinfeksi oleh kolera unggas / ayam ataupun merupakan sumber infeksi bagi unggas melalui leleran hidung maupun mulut.

Gejala Klinik Kolera Unggas

Kolera unggas merupakan salah satu penyakit yang mempunyai variasi paling besar dalam gejala klinik dan lesi yang ditimbulkannya. Manisfestasi penyakit ini dapat ditemukan dalam beberapa bentuk, yaitu perakut, akut, kronis dan lokal. Walaupun demikian, gejala yang dapat diamati secara jelas adalah bentuk akut dan kronis. Masa inkubasi dari penyakit hewan ini adalah berkisar 3-9 hari.

PENYAKIT INFECTIOUS CORYZA PADA AYAM

Infectious coryza (snot) merupakan suatu penyakit pernapasan pada ayam, yang disebabkan oleh bakteri dan dapat berlangsung akut sampai kronis. Secara umum snot dikenal sebagai penyakit yang menyebabkan kematian rendah tetapi morbiditasnya tinggi. Penyakit ini bersifat sangat infeksius dan terutama menyerang saluran pernapasan bagian atas. Penyakit ini merusak saluran pemapasan bagian atas, terutama rongga hidung. Snot mempunyai arti ekonomis yang penting dalam industri perunggasan sehubungan dengan peningkatan jumlah ayam yang diafkir, penurunan berat badan, penurunan produksi telur (10% - 40%), dan peningkatan biaya pengobatan.

A. Kejadian Penyakit

Infectious coryza merupakan penyakit yang mempunyai dampak ekonomik yang merugikan pada industri perunggasan di berbagai negara di dunia, meliputi Amerika, Eropa, Australia, Afrika dan Asia. Di Indonesia, penyakit ini dapat ditemukan di berbagai daerah, hampir pada setiap periode pemeliharaan ayam (pedaging maupun petelur). Kasus snot terutama ditemukan pada saat pergantian musim (kemarau ke hujan atau sebaliknya) atau selama periode curah hujan yang tinggi. Penyakit ini sulit diberantas oleh karena faktor-faktor pendukungnya sulit dihilangkan, sehubungan dengan kondisi manajemen peternakan dan cuaca di Indonesia, misalnya sistem perkandangan (ventilasi kurang memadai, jarak kandang sempit, kepadatan kandang dan kadar amoniak yang tinggi), umur ayam yang bervariasi dalam satu lokasi dan fluktuasi temperatur dan kelembapan yang cenderung tinggi.

B. Etiologi

Penyakit ini disebabkan oleh Haemophilus paragallinarum, yang merupakan bakteri gram-negatif, berbentuk batang pendek atau coccobacilli, tercat polar, non-motil, tidak membentuk spora, fakultatif anaerobe dan membutuhkan faktor - V. 
Haemophilus paragallinarum merupakan organisme yang mudah mati atau mengalami inaktivasi secara cepat di luar tubuh hospes. Eksudat infeksius yang dicampur dengan air ledeng akan mengalami inaktivasi dalam waktu 4 jam pada temperatur yang berfluktuatif. Eksudat atau jaringan yang mengandung kuman ini akan tetap infeksius selama 24 jam pada temperatur 37o C, bahkan kadang-kadang dapat bertahan sampai 48 jam. Pada temperatur 4 oC eksudat infeksius dapat bertahan selama beberapa hari. pada temperatur 45- 55o C, kultur Haemophilus paragallinarum dapat di inaktivasi dalam waktu 2-10 menit. cairan embrio yang infeksius yang diberi larutan 0,25 % formalin akan mengalami inaktivasi dalam waktu 24jam pada temperatur 6 oC. 
Haemophilus paragallinarum terdiri atas sejumlah strain dengan antigenitas yang berbeda dan paling sedikit 3 serotipe, yaitu A, B dan C telah dikarakterisasi secara terperinci. Walaupun serotipe A dan C dikenal sebagai serotipe yang paling virulen, hasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa serotipe B juga mempunyai peranan pada kejadian infectious coryza

C. Cara Penularan 

Di samping ayam, penyakit ini juga telah ditularkan pada burung merak, ayam mutiara, dan burung puyuh. penularan hanya terjadi secara horizontal: ayam yang menderita infbksi kronis atau carrier merupakan sumber utama penularan penyakit. Infectious Coryza terutama ditemukan pada saat pergantian musim atau berhubungan dengan adanya berbagai jenis stres, misalnya akibat cuaca, lingkungan kandang, nutrisi, perlakuan vaksinasi dan penyakit imunosupresif.
Penyakit ini dapat menular secara cepat dari ayam satu ke ayam lainnya dalam satu flok atau dari flok satu ke flok lainnya. Penularan secara langsung dapat terjadi melalui kontak antara ayam sakit atau carrier dengan ayam lain yang peka. Penularan dapat juga terjadi secara tidak langsung melalui kontak dengan pakan atau berbagai bahan lain, alat/perlengkapan peternakan ataupun pekerja yang tercemar bakteri penyebab Infectious Coryza (misalnya ,eleran tubuh/ayarn sakit). Penularan melalui udara dapat juga terjadi, jika kandang ayam letaknya berdekatan sehingga udara yang tercemar debu/ kotoran yang mengandung kuman Haemophilus paragallinarum dihirup oleh ayam yang peka. Penularan kuman ini melalui burung liar telah dilaporkan oleh beberapa ahli.

D. Gejala Klinik

Infectious Coryza dapat ditemukan pada ayam semua umur, sejak umur 3 minggu sampai masa produksi. Ayam dewasa cenderung bereaksi lebih parah dibandingkan dengan ayam muda. Penyakit ini tersifat oleh masa inkubasi yang pendek, antara 21 - 16 jam, kadang-kadang sampai 72 jam, dengan proses penyakit yang dapat berlangsung 6 -14 hari, tetapi dapat juga berlangsung beberapa bulan (2 - 3 bulan). Pada ayam dewasa, masa inkubasi biasanya lebih pendek, tetapi proses penyakitnya cenderung lebih lama. Pada kondisi lapangan, snot kerapkali ditemukan secara bersama-sama dengan penyakit lainnya, misalnya chronic repiratory disease (CRD), swollen head syndrome (SHS), infectious bronchitis (IB), infectious laryngotracheitis (ILT), kolibasilosis dan.fowl pox. Pada keadaan tersebut biasanya mortalitas akan lebih tinggi dan prosesnya juga akan lebih lama. 
penyakit snot pada ayam
Infectious Coryza (snot)
Gejala yang paling awal adalah ayam bersin, yang diikuti oleh adanya eksudat sereus sampai mukoid dari rongga hidung ataupun mata. Jika proses penyakit berlanjut, maka eksudal yang bening dan encer tersebut akan menjadi kental (mukopurulen sampai purulen) dan berbau busuk / tidak sedap dan bercampur dengan kotoran/sisa pakan. Kumpulan eksudat tersebut akan menyebabkan pembengkakan di daerah fasial dan sekitar mata. 
Jika daerah yang membengkak ditekan dengan jari, maka akan terasa empuk. pada sejumlah kasus, dapat dijumpai adanya pembengkakan pada pial, terutama pada ayam bibit jantan (parent stock). Kelopak mata biasanya terlihat kemerahan, yang kerapkali menyebabkan mata menjadi tertutup. Jika saluran pemapasan bagian bawah terkena, maka akan terdengar suara ngorok yang "halus", yang biasanya hanya terdengar pada malam hari. Ayam yang terserang snot akan mengalami gangguan nafsu makan dan minum yang dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan, peningkatan jumlah ayam yang diafkir ataupun penurunan produksi telur. Ayam yang terserang penyakit ini kerapkali akan mengalami diare. Jika proses penyakit berlangsung kronis, maka dapat terjadi komplikasi dengan bakteri lain ataupun virus.
Infectious coryza biasanya rnenyebabkan morbiditas tinggi, tetapi mortalitas rendah. walaupun demikian, beberapa strain Haemophilus paragallinarum yang sangat virulen telah dilaporkan menyebabkan mortalitas yang tinggi. Berbagai faktor tertentu, misalnya sistem perkandangan yang kurang memadai, infestasi parasit dan keadaan nutrisi yang kurang baik akan meningkatkan derajat keparahan dan lamanya proses penyakit. Ayam yang sembuh dari infeksi akan mempunyai suatu derajat kekebalan tertentu terhadap infeksi ulangan dengan Haemophilus paragallinarum. Pullet (ayam dara) yang telah terinfeksi dengan kuman tersebut selama periode grower biasanya akan mempunyai antibodi terhadap Haemophilus paragallinarum yang dapat melindungi terhadap penurunan produksi. Kekebalan terhadap infeksi ulangan dapat terjadi sejak 2 minggu setelah infeksi awal secara buatan melalui sinus. Kekebalan pasif terhadap Haemophilus paragallinarum belum diketahui secara pasti.

E. Perubahan Patologik

l. Perubahan makroskopik

Biasanya terbatas pada saluran pernapasan bagian atas. Penyakit ini akan menyebabkan peradangan kataralis akut pada membrana mukosa kavum nasi dan sinus. Kerapkali akan ditemukan adanya konjungtivitis kataralis dan edema subkutan pada daerah fasialis dan pial. Pada penyakit ini, jarang ditemukan adanya peradangan pada paru dan kantong udara.

2. Perubahan mikroskopik

Perubahan histopatologik pada kavum nasi, sinus infraorbitalis dan trakea meliputi deskuamasi, desintegrasi dan hiperplasia lapisan mukosa dan glandularis; edema, hipermia, infiltrasi heterofil, mast cell dan makrofag di daerah tunika propria. Jika infeksi meluas ke saluran pernapasan bagian bawah, maka akan ditemukan adanya bronkopneumonia akut, yang ditandai oleh adanya infiltrasi heterofil di antara dinding parabronki.

F. Diagnosis

Diagnosis sangkaan dapat didasarkan atas gejala klinik dan perubahan patologik yang ditimbulkan oleh snot. Diagnosis pasti dapat dilakukan dengan isolasi dan identifikasi kuman dari kasus snot pada stadium akut (l - 7 hari pasca-infeksi). Diagnosis snot dapat juga dilakukan secara in vivo dengan cara inokulasi pada ayam yang sensitif menggunakan eksudat dari sinus ayam sakit atau suspensi kultur kuman Haemophilus paragallinarum. Metode lain untuk mendiagnosis penyakit ini adalah secara serologik dengan uji agar gel presipitation (AGP), uji hemaglutinasi inhibisi (HI), uji hemaglutinasi (HA) tidak langsung dan uji fluorescent antibody (FA) langsung. Penyakit yang mirip dengan snot, adalah SHS, CRD, IB, ILT dan fowl pox. Sehubungan dengan kemungkinan adanya infeksi campuran antara snot dengan bakteri lain atau virus maka jika terjadi mortalitas yang tinggi dan proses penyakit yang lama, maka kemungkinan tersebut perlu dipertimbangkan

G.  Penanggulangan

I. Pengobatan

Berbagai jenis antibiotik dan antibakteri telah dipakai untuk mengobati snot, namun banyak di antara obat tersebut yang hanya mengurangi derajat keparahan dan lamanya proses penyakit tanpa mengatasi penyakit ini secara tuntas. Hal ini kerapkali mengakibatkan adanya sejumlah ayam yang menjadi carrier. Penyakit ini cenderung kambuh lagi, jika pengobatan dihentikan; jika pengobatan dilakukan secara berulang, maka kemungkinan akan timbul resistensi terhadap obat tertentu. Penggunaan obat dalam bentuk kombinasi yang bersifat sinergestik atau obat golongan flumekuin maupun kuinolon lebih menjanjikan. Di samping pemberian obat, maka diperlukan juga rehabilitasi pada jaringan yang rusak dengan pemberian multivitamin ataupun peningkatan nilai nutrien dari pakan; menghilangkan faktor pendukung terjadinya snot dan tindakan sanitasi/desinfeksi untuk menghilangkan sumber infeksi.

2. Pengendalian dan pencegahan

Sehubungan dengan kenyataan bahwa ayam carrier merupakan sumber infeksi, maka perlu dihindari untuk membawa pullet atau ayam lain yang mungkin terinfeksi/membawa kuman Haemophilus paragallinqrum ke dalam lokasi peternakan yang tidak terinfeksi. Jumlah kelompok umur dalam suatu lokasi peternakan sebaiknya dikurangi untuk menghindari penularan penyakit dari ayam tua ke ayam muda (memutuskan siklus penularan kuman penyebab snot). Praktek pengamanan biologis yang ketat perlu dipertahankan, misalnya sanitasi/desinfeksi yang ketat, sistem perkandangan yang memadai dan istirahat kandang yang cukup (sekitar 2 minggu). Penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian vaksin inaktif sekitar umur 8 - 1l minggu dan 3 - 4 minggu sebelum produksi (sekitar umur 17 minggu). Pemberian vaksin inaktif sebelum perkiraan timbulnya kasus dan sebelum produksi telur, yang didukung oleh praktek manajemen yang ketat kerapkali memberikan hasil yang menjanjikan. Pada keadaan ini, walaupun kejadian snot tidak dapat diatasi secara tuntas, namun derajat keparahan kasus yang timbul biasanya lebih rendah. Kasus yang demikian pada umumny'a akan bereaksi baik terhadap pengobatan. Sehubungan dengan kenyataan bahwa vaksin snot hanya memberikan kekebalan silang yang minimal di antara/antara berbagai serotipe Haemophilus paragallinarum, maka vaksin yang terbaik seharusnya yang bersifat otogenus atau homolog dengan kuman penyebab snot yang terdapat di lapangan. Namun, pada kondisi lapangan, hal ini sulit dikerjakan dan membutuhkan biaya yang tinggi.

Demikian semoga bermanfaat.



Support : DMCA Protection | Penyakit Hewan
Copyright © 2013. PENYAKIT HEWAN - All Rights Reserved
Kontak Kami
Template Modify by PENYAKIT HEWAN
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger